Selasa, 18 April 2017

Tak Ada Yang Sempurna by Rae chan



HI..HI..Hiii kenalkan nama gue Ervynda Nirmala, biasa dipanggil Ervy or Vie-Vie. Umur gue 16 tahun mau menginjak 17 tahun. Gue sekarang sekolah di SMA Negeri di salah satu sekolah favorit di kota besar. Di sini sistemnya kayak sekolah  luar negeri kebanyakan, pake sistem KBK (Kurikulum berbasis Kompetensi), jadi yang paling aktif adalah murid bukan guru, jadi enak guru yah nggak terlalu susah payah menerangkan, dan murid, yang  paling menderita karena harus mencari jawaban sendiri, menyedihkan!! dan buku harus banyak. Ah tapi sih nggak apa-apa biar anak Indonesia nggak malas belajarnya, mereka harus di ajarkan bagaimana mencari suatu ilmu, karena ilmu susah di cari, biar nggak enaknya aja tinggal baca dan ngapalin tanpa mengetahui susahnya cari ilmu itu.
Gue mempunyai banyak sekali teman di sini. Gue mempunyai satu kakak laki-laki di sini, dia orangnya rese abis, bawel, humoris, cuek abis ama cewek, meskipun begitu dia baik banget ama gue mungkin gue adik satu-satunya kali yee disini.
Tiba-tiba, “Tinitit..tit..tinitit..tit..”, alarm berbunyi hampir sepuluh menitan, dan Ervy belum terbangun juga, setelah ia menyadari, dan baru sadar dari alam bawah sadarnya, bahwa alarmnya berbunyi, ia terbangun secara tiba-tiba dan ia langsung melihat jamnya, “AAAAHHH TIDAAAK, ERI....C, DASAR  kenapa loe nggak ngebangunin gue, liat nih udah jam 6, mampus gue, gue bisa telat nih” gerutunya sambil loncat dari tempat tidur, ia langsung lari menuju ke kamar mandi, yang berada gak jauh dari kamar tidurnya.
 “Aduh, gue lupa ngerapiin tempat tidur lagi”, ia pun balik lagi menuju tempat tidurnya, “Aduh gue bego apa, gue bisa telat kalo ngerapiin tempat tidur dulu, ntar aja gampang nanti di beresin ama pembantu aja, ngapain juga gue balik lagi. Dasar bego!! Bego..”, sambil berkata sendiri, dan memukul jidadnya sendiri, ia pun balik lagi menuju kamar mandinya.
 Lalu ia langsung mandi,”JEBYAR...JEBYUUR” dengan secepat kilat ia mengambil air  dengan gayung, entah terbanjur semuanya pokoknya asalkan air dan sabun udah mengenai tubuhnya, langsung segera di bilas dengan air,  meskipun baru lima  detik, ia mengusapkan sabunnya. Setelah selesai mandi, dia langsung memakai baju tidurnya, dan  berlari keluar kamar mandi dan mengganti piyamanya dengan seragam sekolah.
 “Aduh mana buku fisika gue, sialan!!, hari gini.. pake hilang lagi, ayo dong muncul gue buru-buru nih, please ngomong dong dimana loe??, ntar gue nggak bakalan lagi ngelempar loe lagi deh, janjii..!, ayo dong muncul”, ia mencari buku fisikanya di meja belajarnya di samping tempat tidurnya, di bawah tempat tidurnya, semua rak buku dia liat dan diobrak-abrik, “ aduuuuh mana sih, dalam keadaan gawat gini gue harus nyari buku fisika sialan itu lagi, Rii....C loe liat buku fisika gue nggak”, dia berteriak-teriak ke kakaknya, yang kamarnya ada di sebelah kamarnya, suaranya memecah kesunyian pagi itu, sambil terus mencari bukunya .
sambil melihat jam di dinding, “KAKA....K, cepetan sini, WHAT!”, sambil melihat ke jam dinding di kamarnya yang bergambar klub sepak bola favoritnya Liverpool, “jam setengah TUJUH!!!, udah ah bodo, paling tinggal disuruh keluar”, ia sudah kesal karena bukunya tidak di temukan dan bibir dia pun manyun-manyun entah berapa senti.
Sang kakak yang mendengar teriakan adiknya langsung menuju kamar adiknya dengan tergesa-gesa, dan ia pun sudah berada di depan pintu, dia langsung masuk  dan bersamaan Ervy keluar menarik pintunya, “Aduh.., aduh, my nose!!!”,  kata Ervy sambil memegang hidungnya, dan ia mundur beberapa langkah, ia melihat kakaknya di balik pintu kamarnya, dan Ervy melirik marah ke kakaknya, dan Eric tertawa sambil  meminta maaf dengan isyarat tangannya, dan setelah itu sambil melihat, ia terheran-heran kamar adiknya berantakan banget kaya rumah yang sedang di guncang gempa berkekuatan sepuluh pada skala richter, dan seperti kapal pecah karena terjangan ombak yang sangat besar.
 “Hei, kenapa sih, teriak-teriak aja, bisa-bisa telinga gue budeg tiap pagi, kerjaannya teriak mulu. apaan ini berantakan kaya gini kayak kapal pecah aja, ngapain sih loe dasar Vie-Vie! hanya pembuat berantakan aja kerjaannya tiap hari”, sang kakak masuk ke dalam kamarnya, sambil ikut membereskan buku yang berserakan.
Dan Ervy hanya mengganggap perkataan Eric, seperti angin lalu aja, tidak di tanggapi, “Ric, loe tau nggak buku fisika gue yang bersampul boneka teddy bear?, yang di depannya bertuliskan FISIKA” ,sambil ia mencari-cari di semua sudut ruangan kamarnya sekali lagi.
”Udah gue cari di bawah kolong tempat tidur, semua rak, nggak ada semuanya, gimana nih, pasti gue bakalan terkena hukuman!, Ric please dong cariin? Ya..ya..” sambil ia memelas dan memainkan lirikan matanya yang manis agar kakanya mau ikut mencarinya.
 “Oh buku itu!, perasaan ada di ruang baca noh, loe sendiri yang mengerjakannya kan tadi malam, loe ingat nggak?” sambil sang kakak membantu adiknya merapikan tempat tidurnya.
 “A..ap.apa, kenapa nggak bilang dari tadi!!, liat nih gue udah telat, UUhhuuhhhuuuh!”, sambil ia langsung lari keluar kamar dan menurunin tangga menuju ruang baca.
“Woi, emang loe tadi nanya gue dimana buku fisika loe, kapan?, perasan barusan deh loe nanyanya!”, saat Eric mengatakan hal itu, Ervy sudah keluar dari kamarnya.
 “Ini gimana beresin dulu dong jangan langsung ditinggal pergi”, Eric sambil membereskan buku yang berceceran.
“Ngapain jadi gue yang sibuk beresin buku ini, emang gue pembantunya apa”, sang kakak yang baru sadar, lalu ia mengikuti langkah adiknya keluar dan menuruni tangga.
“Vie, beresin dulu dong”, Eric berteriak sambil menutup pintu kamar Ervy, dan ia melihat ke bawah, menuruni tangga..
“Kakak aja deh yang beresin or bik Inah aja, Vie-Vie buru-buru nih daadaaa”, setelah ia mengambil bukunya ia langsung berlari keluar rumah dan menutup pintu dengan kencang.
 “Kok gue sih, malas banget tau nggak sih loe!!, gue masih ada urusan yang harus gue kerjain, yaitu beresin tempat tidur gue sendiri, Vie loe denger nggak??, Yee dia nggak dengerin gue lagi, cape-cape gue ngomong!, BII..., Kesini dong”, gerutu kakaknya kesal, omongannya nggak di tanggapi lagi.
Ervy pun langsung berlari ke luar rumah, yang di sebelah garasinya sudah bersandarnya sepeda miliknya, lalu ia mengambil sepedanya dan ia langsung menggosehnya dengan sangat cepat, aduh entah ya, apa ia udah dandan atau belum ia langsung aja pergi karena dari rumahnya , dari rumah sampai ke sekolah membutuhkan waktu 30 menit sedangkan jam masuk jam 7. Sekarang jam tangannya menunjukan pukul 6.45, ia pun langsung menggosehnya dengan secepat kilat dan kecepatannya menandingi kecepatan mobil F1.
Akhirnya ia tiba di parkir sekolah, hampir aja dia nggak boleh masuk untung aja ada pak satpam yang baik hati yang mempersilakan dia masuk, ia langsung menjatuhkan sepedanya begitu saja tanpa di standarkan dulu, lalu ia tinggal pergi, masuk ke dalam sekolah dan ia pun terlambat 5 menit, ia langsung berlari memasuki sekolahnya, larinya nggak terlalu cepat karena terhalang roknya dan terdengar orang berlari di sepanjang koridor sekolah membuat suara berisik padahal saat itu sekolah sudah mulai sepi karena sudah di mulai pelajarannya.
Akhirnya ia sampai di depan kelasnya, napasnya terengah-engah tapi ia tidak mempunyai waktu untuk beristirahat, ia menelan ludahnya dulu baru ia memberanikan diri untuk mengetok pintu kelasnya, lalu ia membuka pintunya, dan ia langsung memasuki kelasnya dan seseorang telah menunggunya, duduk di bangku guru, ia memakai kacamata, dan terlihat sangat tidak welcome.
“Ervynda Nirmala kamu sudah telat 10 menit, hukumannya apa ya? kamu bebas memilihnya, kamu mau tetap di situ atau keluar dari kelas ini SEKARANG!!”, celotehnya dengan suara yang menggema di seluruh ruangan kelas dan siswa yang lain tidak berani menatap guru itu.
Ervy hampir aja mengeluarkan kata “AAAA!!!!”,untung aja dia menahan kagetnya, karena kaget setengah mati,  “Aaa..anuu, Bu maafkan saya, saya terlambat, tapi saya ingin tetap di kelas Bu untuk belajar pelajaran Ibu,” suaranya begitu halus, datar sekali dan pelan, sambil menelan ludahnya sendiri.
 Dan Guru itu hanya tertawa kecil, “Maaf nak Ervynda bisa kamu perjelas lagi”, suara guru itu begitu pelan tapi terdengar seperti menantang.
“Maafkan saya bu, saya mau masuk saja, saya ingin belajar pelajaran ibu!!”, sedikit berteriak tapi tetap kepalanya sedikit menunduk tapi masih dapat melihat guru itu.
“Baiklah nak Ervynda, sekarang kamu mengerjakan PR yang ibu berikan semuanya kan, nah kamu tulis semua PR itu di papan tulis harus benar semuanya, kamu tidak akan duduk sebelum jawaban semuanya benar”, sang guru itu mendekati Ervy sambil memberikan spidol.
 “Baik bu tapi bolehkah saya menaruh tas saya dulu, Bu?”, dan guru itu pun mengangguk dan Ervy masuk ke kelas dan menaruh tasnya di bangkunya.
“Hari gini Ketua OSIS telat! Huh sudah gak jaman deh”, kata salah satu murid cowok meledek Ervy dengan suara agak pelan. Dan Ervy hanya melirik tajam ke arah cowok itu, dan cowok itu pun langsung mengalihkan penglihatannya takut dengan tatapan Ervy yang siap menerkam korbannya , itu pun kalo gak ada guru killer itu.
Dia pun langsung menulis semua jawaban PR fisika itu dengan benar, beruntunglah ia karena ia tergolong siswi terpintar di sekolah ini dan ia pun bisa sekolah disini karena beasiswa. Sekolah ini merupakan sekolah elite yang kebanyakan siswanya adalah anak direktur, pejabat negara baik dalam maupun luar negeri, saudara anggota lembaga tinggi negara. Dan sekolah ini terkenal dengan fasilitas yang super lengkap.
Setelah bel istirahat berbunyi ia langsung menuju kantin bersama sahabatnya. “ Ayo dong cepetan laper nih gue, tadi pagi gue belum sarapan gara-gara nyari buku fisika yang rese itu! udah gitu gue telat bangun lagi jadi mana sempat untuk makan”, gerutunya sambil ia mempercepat langkahnya.
Sambil melirik kekanan-kekiri, “Loe ngomong ama gue ya!, Ohh.sorry lagi nggak conect, tapi tungguin dong, cepet banget sih loe jalan, hei pelan-pelan dong”, kata salah satu teman Ervy yang cewek. Oh ya kenalin sahabat gue ada 4, 2 cewek, dan 2 cowok.
kenalin yang pertama namanya Velli suka dipanggil Vell nama panjangnya Aravellin Putri Cahyani, sambil berlari kecil  ia mengikuti langkah Ervy yang cepat. “Vie tunggu dong, ya ampun langkah loe kayak gajah aja, gede-gede”
Kenalin ini teman gue yang cowok namanya Ferryo Nugraha disingkat Ryo, orangnya agak aneh, suka bercanda dan ia pun berjalan dengan cepat.
 “Berisik amat si loe, ya udah gue duluan aja ya daadaa, gue udah laper banget nih”, Ervy sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan dan berlari menuju kantin untuk makan.
Teman cewek gue ada Mira, nama panjangnya Mira Celine, ia merupakan sekretaris OSIS. Dan teman cowok gue satu lagi merupakan cover Boys di sekolah ini namanya Aldi ia keturunan bule, ya lumayan lah walaupun hanya Opanya yang bule, dia mendapatkan paling tidak sedikit gennya. Kulitnya yang putih, badannya yang atletis, mukanya seperti anak-anak, pokoknya manis banget deh, ia mempunyai jabatan sebagai wakil ketua OSIS, dan ketua eskul Basket.
Orang-orang menganggap Ervy orangnya rame, ceria, enak di ajak ngobrol, pintar, cantik lagi, kulitnya yang putih, rambutnya panjang dan hitam, lurus, mukanya baby face, tinggi, langsing, rapi, dan dandanannya natural. Tapi...
“Ehemmm...”, kata Ervy berdehem ke gerombolan cewek-cewek yang baru aja keluar dari kelas mereka, “Bajunya bagus banget ya sudah di keluarin, eh baju yang bekas  bayi masih dipake, gak modal banget sih”, dengan mata yang sedikit angkuh, “Kalo mau bergaya-gaya bukan di sini Mbak! Ini sekolah, dimana kita berpakaian seragam yang rapi, sopan, bersih, dan yang jelas gak kekecilan, apalagi di keluarin kaya bukan anak baik-baik, kalo mau baju dikeluarin noh di sinetron Mbak. Buat apa ada peraturan sekolah kalo buat dilanggar. Peraturan sekolah itu baru secuil, masa peraturan yang kecil ini udah dilanggar gimana kalo peraturan besar  yang berlaku di negara kita, kalo kecil aja udah dilanggar gimana? kapan dong negara kita maju kalo peraturan yang masih kecil ini aja dilanggar oleh anak yang masih bau kencur”, sambil melipat tangannya dan melihat sinis anak kelas 1 itu.
“Apa perlu saya menandatangani kartu pelanggaran siswa, oh iya saya lupa memberitahukan ke kalian, saya mempunyai wewenang di sekolah ini untuk menandatangani siswa yang melanggar peraturan di sekolah ini karena saya ketua OSIS mengerti, saya gak pilih-pilih, baik kalian yang masih kelas 1 ataupun kakak kelas saya, ataupun saya sendiri karena saya tadi dapat tandatangan dari guru tata tertib karena saya telat!”, Ervy kembali berceramah, dan segerombolan anak-anak itu langsung memasukan baju mereka yang di keluarkan.
“Awas aja saya tau muka kalian jangan sampai saya melihat kalian melanggar peraturan lagi, kalo kalian gak percaya tanyakan saja ke teman kalian siapa yang pernah ketegur sama saya sebulan yang lalu tengah merokok di lingkungan sekolah, dan pas saya ketemu mereka lagi saat merokok, liatin apa yang saya lakukan pada dia, saya gak pernah takut kalo dalam urusan kebenaran, CAMKAN itu! Sana, awas saya memperingatkan kalian lagi jangan sampai ketemu saya pas kalian mengeluarkan baju kalian”, setelah Ervy ngomong panjang lebar akhirnya ia melepaskan segerombolan anak cewek itu, dan orang yang melihat Ervy tengah memceramahi karena baju yang di keluarkan, para siswa yang saat itu bjau di keluarkan langsung buru-buru memasukan lagi baju mereka. Karena mereka takut setelah Ervy memandangi sekitarnya, sedangkan temna-temannya hanya tertawa saja melihat Ervy menceramahi anak cewek itu.
“Vie, kasihan tau, loe masa menceramhi mereka panjang lebar kaya gitu, kan kasihan mereka kan cantik-cantik, apalagi mereka kan anggota Cheers loe”, kata Ryo sedikit kecewa.
“Kan gue udah bilang, gue gak pilih-pilih, meskipun waktu itu baju loe di keluarin gue juga akan berlaku sama”
“Ya... kalo gitu gue harus hati-hati dong”, dan Ervy mebalas dengan senyuman kecut.
 Tapi di lain pihak kadang-kadang orang menganggap rendah Ervy karena menganggap ia miskin, apalagi cewek-cewek di sekolah itu banyak yang membencinya, entah karena kelebihan yang ia miliki atau karena ia dianggap miskin oleh siswa-siswi yang ada di sini, karena yang lain kendaraannya mobil, dia sendiri yang kendaraannya sepeda.
Banyak anak cowok naksir ama dia tapi tidak ada seorang pun yang diterima, ia lebih memilih jadi temanan daripada jadi pacarnya, jadi ia mempunyai banyak sekali teman cowok dan dia tidak membeda-bedakan temannya, dan dia juga nggak terlalu takut dekat dengan cowok .
Setelah ia sampai ke kantin ia langsung meraih makanan yang disajikan di kantin itu, dan ia langsung menuju kursi kosong yang berjejer di ruang makan itu dengan muka yang sumringah.
Saat ia menuju kursi kosong itu tiba-tiba ia tersungkur karena kakinya diganjal oleh kaki cewek yang sedang duduk di depan bangku yang ia tuju.
  Ia langsung berdiri dan merapikan bajunya dan ia melihat makanan yang jatuh berserakan di depannya, dengan ekspresi sedih, “Ya makanan gue”, dan ia pun langsung membersihkan makanannya agar tidak berserakan.
 “Hei loe, makanya kalo jalan tuh liat-liat nggak langsung nyelonong  lari begitu aja”, kata cewek yang tadi melonjorkan kakinya dengan wajah jutek.
 “Ooh, atau jangan-jangan kamu lagi kelaperan ya, dasar miss KERE” kata temannya di sebelahnya.
“Emang kenapa kalo gue kelaparan, and gue miskin?” Ervy berkata dengan nada agak marah dan menantang.
“Hei harusnya loe tuh sadar tempat sesungguhnya loe tuh bukannya disini!, disini tempat orang berduit, bukan tempat gelandangan kaya loe,  tau nggak sih loe!!”, cetus cewek yang tadi sambil berdiri dan menunjuk muka Ervy.
 “Bener Van, masa ada sih, gelandangan sekolah disini, nggak elit gitu lho hahahaha”, Sonia, orang yang berada di sebelah Vanny tertawa bersama dengan teman-temannya.
“Hai Vany, emang gue miskin, tapi gue memanfaatkan kekayaan ortu gue, nggak kaya loe, loe tuh apa, uang aja masih minta ama ortu, maluuuu dong!!, loe tuh bisanya hanya minta uang ke bokap and nyokap loe ingat loe tuh belum bekerja so belum punya pengahasilan, jadi selama ini loe tuh ngutang ke mereka maluuuu dong ngutang mulu”, Ervy membalasnya dengan kasar.
“Dasar loe tuh ya, bilang aja loe iri ama gue, nggak usah ngomong gitu lagi deh”, balas Vanny ke Ervy.
“Loe mau gue labrak, gue nggak takut ama loe, ayuk sini gue ladeni loe”, lawan Sonia ke Ervy.
“Heh, loe emang berani ama gue, sini kalau berani, gue nggak takut ama loe”, Ervy membalasnya dengan ketus sambil mendemostrasikan gaya silatnya, karena Ervy merupakan pemegang sabuk hitam di Tae Kwon Do.
Sonia, Vanny and the ganknya hanya diam saja, karena tidak berani melawan wanita yang biasanya  lembut yang menjelma menjadi wanita perkasa itu yang sekarang sedang berdiri di samping mejanya.
Teman-teman Ervy datang dan langsung membantu membersihkan makanan yang berserakan di lantai.
 “Ervy napa loe, kok bisa jatuh sih makanan loe, tuh liat baju loe juga kotor”, Ryo berkata sambil ikut membersihkan makanan yang berceceran.
“Ama gue makanannya gue buang!!, ya pastilah baju gue kotor dan makanan berceceran karena gue tadi jatuh”, jawab Ervy agak kesal
“Udah-udah nggak usah berisik, berisik gue dengernya, Taaaammmm!!!! pinjam lap pel dong mau di pel nih”, Ervy meminta pel ke Tam  dengan suara yang menggelegar seluruh kantin, ia merupakan pegawai kebersihan.
 Dan Tam pun datang sambil membawa seperangkat kebersihan, dengan secepat kilat. Karena ia tahu seperti apa watak Ervy.
“Udah Vie, biar saya aja yang membersihkan ini, lebih kamu makan aja”, Tam mulai mengepel lantai tadi yang terkena tumpahan makanan.
“Makasih banget ya, Tam kamu baik banget deh, semoga aja ntar kamu mendapat suami yang baik, yang mau menerima kekuranganmu.”
Ervy tersenyum kepada Tam. Tam pun membalas senyumannya. Di sekolah ini yang perduli dengan pegawai yang satu ini hanya geng Ervy doang. Tam merupakan pegawai kebersihan yang teladan di sekolah ini, ia belum mempunyai suami karena terhalang oleh kondisinya yang cacat yaitu tidak mempunyai kaki, sebelah kakinya harus diemputasi saat ia mengalami kecelakaan saat masih kecil, dan kaki barunya merupakan kaki buatan yang di dapatnya dari hasil iuran geng Ervy.
“Ya udah ya Tam, Vie makan dulu ya, sekali lagi Thanks ya”, ia pun kembali ke meja yang berisi makanan dan ia pun kembali makanan yang sama dan langsung duduk di bangku yang kosong.
Taminem adalah kepanjangannya, ia merupakan yatim piatu, di sekolah ini Tammy tidak di sukai dengan siswa disini karena cacatnya. Tapi di sisi lain hanya geng Ervy lah yang mau berteman. Oleh sebab itu kadang Tammy menganggap Ervy adalah anaknya sendiri meskipun ia belum pernah merasakan punya anak.
Saat ia berbalik menuju bangku yang kosong, langkahnya terhenti, lalu ia berbalik lagi, “Hei, Van, ini sekolah bukan diskotik, jadi kalo pake perhiasan yang wajar-wajar aja deh, mencolok banget sih loe pake perhiasannya kaya wanita yang sering nongkrong di pinggir jalan saat malam hari, ini sekolah untuk mencari ilmu, bukan untuk gaya-gayaan and mengeluarkan kekeyaan. Saya gak mau melihat loe and the gank loe make perhiasan yang mencolok kayak gini besok, atau saya akan melaporkan ke kepsek, agar loe mendapat skorsing, ngerti?”, setelah berceramah lagi, Ervy pun berbalik badan dan menuju bangku tempat makan, dan teman-temannya mengikutinya dari belakang. Dan wajah Vanny and the gank sangat shock and gondok abis di perlakukan kaya gitu di depan siswa-siswi yang ada di kantin.
Saat mereka duduk di bangku, “Ervy ntar loe ikutan semangatin gue ya, ntar kan gue tanding ama anak smansa”, Aldi memohon ke Ervy dengan suara yang lembut.
“Ya.., pasti lah gue kan anggota Cheerleaders Highy, gue pasti bakalan dukung loe, tapi maaf aja gue nggak bisa ikut Cheers, karena gue hanya sebagai pelatih, tapi gue pasti bakalan datang ke pertandingan loe”.
 “Makasih ya Ervy, gue pasti bakalan menangin pertandingan itu demi loe dan gue bakalan jadi MPV-nya”
“Yakin bener loe, awas aja kalah ntar loe nraktir gue ya jika loe kalah”
 “Pastilah, gue nggak bakalan kalah karena kan ada kamu yang bikin gue semangat terus”, muka Aldi agak memerah dan Ervy hanya tersenyum.
“Aaiiih, ada yang sedang PDKT nih”, Mira menggoda Ervy sambil menyiku tangannya ke badan Ervy.
“Idih apaan sih loe, dia kan sahabat gue wajar kan gue semangatin dia”.
 “Semangatin, apa semangatin hayooo”, ujar Velli.
“udah ah makan aja ntar keburu masuk”, Ervy memperalihkan pembicaraan.
“wah-wah-wah bakalan ada yang jadian nih bentar lagi, siapa ya kira-kira orangnya”, Mira menggoda Aldi dengan matanya yang menunjuk arah ke Aldi.
“Berisi......k, udah dong makan, gue ntar jadi nggak makan mendengarkan ocehan kalian, udah dong hentikan bicaranya, gue mau makan yang enak”, ucap Ervy agak sedikit kesal.
‘Iya..iya diem dong, calon pacar Aldi marah nih yee”, goda Ryo ke Ervy.
“RYO...berisik tau, loe pernah merasakan nggak kelilipan sendok di mata loe, karena kalo belum gue mau ngasih ke loe mumpung sendok gue masih steril”, Ervy menggoda Ryo dengan ancamannya.
“Aduuh, Vie maaf, maaf janji gue nggak bakalan lagi gangguain loe, udah dong maaf Vie!”, Ryo meminta maaf sambil memegangsendok kepunyaan Ervy agar tidak di colok ke matanya.
Akhirnya bel masuk pun tiba, sambil menuju kelas mereka berbincang-bincang.
“Adu..h Kenyang, gila makanannya enak banget, ntar gue minta ah buat di rumah lumayan gratis”, ujar Ervy sambil memegang perutnya.
“Perasaan biasa aja deh, rasanya sama seperti biasanya, nggak ada yang istimewanya sama sekali”, sanggah Mira.
“Mungkin karena loe lagi laper aja, makanan yang di bilang biasa aja, mungkin di lidah loe di interprestasikan enak”, kata Aldi menyindir Ervy.
“Liat!! bu Mia udah di depan kelas ayo cepetan masuk”, kata Velli sambil mulai berlari memasuki kelasnya yang di ikuti oleh yang lainnya.
Jam pulang datang lebih cepat karena guru-guru ada rapat mengenai program pelajaran dalam tahun ajaran baru ini.
“Tumben banget sih guru rapat kita di suruh pulang, nggak biasanya, tapi nggak apa-apa yang penting tidak ketemu guru killer, pak Angger, ih serem, namanya aja seperti Angry = Angger hampir sama kan, nama dengan mukanya sama-sama seremnya”, ujar Ryo sambil bergidik.
“Ya udah, gue mo ganti baju dulu ya mau latihan Cheers, loe nggak latihan Aldi”, Ervy sambil membuka lokernya.
“Iya, ntar lagi gue mo sholat dulu, bentar lagi Dhuhur, sholat bareng yuk”, Aldi sambil mengambil baju basketnya dan alat sholat di lokersnya, yang bersebelahan dengan lokers Ervy.
“Iya ntar masih 25 menit lagi, gue mau ganti baju latiahan dulu habis itu langsung ke mesjid”, ujarnya.
“Hei, gue kok nggak di ajak, sentimen loe ya ke gue, gara-gara gue tadi gangguin loe ya”, ujar Ryo sambil cemberut yang sedang berdiri di sebelah Aldi.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa karena muka Ryo sangat lucu jika Ryo ngambek.
“Aiihhhh ada yang ngambek nih, Ryo muka loe lucu deh kalo lagi ngambek kaya Shincan, haa.....”, canda Velli ke Ryo.
“Berengsek loe katain gue kaya Shincan awas loe ya, sini gue poles loe”, Ryo sambil memoles kepala Velli.
“Ampun Ferryo” kata Velli sambil tertawa, dan yang lainnya ikutan tertawa juga.”Udah, udah berisik”, kata Ervy terganggu.


“Ric.., pelanan dikit dong jalan loe, buru-buru amat sih masih lama tau nggak masuknya”, kata Ega teman Eric kakaknya Ervy. Mereka sedang berada di kampus, tempat Eric belajar.
“Eh lo tau kan gue ketua ospek, dan sekarang udah jam dua belas lebih empat puluh, masa ketua terlambat gimana nanti kata bawahan gue”
“Yee.. tapi baju lo itu..tu, masa ke kampus masih pake sandal jepit lo nggak malu”, Raegan Priyadi Anwar memberi tahu Eric.
Lalu Eric melihat ke bawah, “Ya ampun napa loe baru bilang!! pantesan dari tadi saat gue jalan pada tertawa ke gue, tau-taunya mereka yang menertawakan gue”, lalu Eric membalikan badan dan berlari ketempat pakiran, setelah ia mengganti sandal jepitnya dengan sepatunya ia berlari lagi ke lapangan untuk membuka orientasi mahasiswa baru di kampusnya.
Ega menunggu di pintu masuk kampus, “Ric tungguin gue dong”, Ega yang baru sadar ternyata Eric telah berlari melewati dirinya, dan ia pun ikut berlari.
Saat tiba di lapangan semua panitia ospek pada melihat Eric dengan muka masam, “Eric gimana sih loe masa ketua telat sih, kalo telatnya dua lima menit sih nggak apa-apa, ini setengah jam Ric, liat semua peserta udah pada baris, lagian loe kan ketuanya yang harus menjadi pembina upacara, mana jas loe Ric”, kata Shinta sekretaris kegiatan ini.
“Ya ampun masih di mobil gue, kenapa gue sial banget sih??“, lalu Eric membalikan badannya dan berlari, saat berlari melewati dirinya,  Ega baru aja datang, dengan ngos-ngosan. “Hei Ric! mau kemana lagi tuh anak?? Huh”, bicaranya pada diri sendiri.
 Eric berlari menuju pakiran dan membuka bagasinya dan mengambil jas kampus setelah itu ia menutupnya kembali dan ia berlari lagi dan mengenakan jas kampusnya sambil berlari, sesekali ia harus berhenti larinya dan balik lagi untuk mengambil sesuatu yang jatuh, akhirnya ia sampai juga di lapangan dengan nafas yang tergopoh-gopoh, tiba-tiba saat sebelum upacara di mulai ia merasakan perutnya sakit, lalu ia bilang ke Shinta bahwa sekretaris ospek ini bahwa dia sedang sakit perut sehingga pemimpin upacara di gantikan oleh Vito. Vito merupakan salah satu sahabatnya setelah Ega. Setelah upacara pembukaan di buka ia berdiri di belakang peserta ospek, sesekali ia melihat kesekeliling kampusnya, pandangannya terhenti.
Saat ia melihat seorang cewek yang sangat cantik, rambutnya panjang, putih sedang berjalan dengan pacar Vito, dia baru melihat cewek ini ada di kampusnya ia berpikir pasti ini anak baru, ia langsung terpesona oleh senyumannya cewek itu, ia baru melihat ada cewek yang mempunyai senyuman semanis itu selain adiknya, Eric sampai terbengong-bengong melihat cewek itu sampai-sampai langkah kakinya ia liat, bahkan saat bayangan cewek itu sudah nggak ada dia masih mencari-carinya.
Setelah selesai semua peserta ospek masuk kelas masing-masing untuk di beri pengarahan. “Hei Ric napa sih loe ngelamun mulu, ada apa sih”, kata Ega ingin tau.
“Mau tau aja lo urusan gue”, kata Eric membalasnya dengan sinis.
“Iya ada apa?, Eric..Halloow loe masih hidup kan Ric”, kata Vito sambil melembai-lambaikan tangannya di depan muka Eric, lalu ia melihat ke arah Eric melihat.
“Oooooohhhhh, Amelia bukan”, kata Vito.
Tiba-tiba Eric tersadar dari lamunannya, “Amelia, jadi itu namanya”.
“Jadi loe dari tadi ngelamun gara-gara Amelia ya, dia emang anak baru, baru kemarin dia pindah, hayo ada apa”
“Apaan sih loe, nggak ada apa-apa”
“Lo suka ya ama Amelia”, potong Vito
“Ikut campur aja, enggak kok, gue nggak naksir ama dia, PD banget sih lo”, kata Eric kalang kabut.
“Udah nggak usah di tutup-tutupi lo tuh orangnya paling nggak bisa bo’ong”, kata Ega yang mendengar perkataan mereka dari tadi.
“Yee nih orang nyambung aja”, balas Eric..
“Iya, ntar gue sampein ke Amelia deh”, kata Vito usil.
“Nggak ah, masa baru ngeliat orang udah mau di sampein, aneh lo, udah yuk kita pulang bentar lagi anak-anak juga pulang, daaa Vito, Ega”
“Yee di bantuin malah ngelak, ya udah ayo Ga kita pulang”, kata Vito sambil merangkul Ega.
“Iiih jangan rangkul-rangkul gue masih normal tau”, kata Ega melepas rangkulan Vito.
“Yeee.... siapa yang mau ama loe, ini kan hanya tanda persahabatan kita, Ga mau kemana loe, numpang dong gue lagi nggak bawa mobil nih di servis, ya Ga”
“Tapi jangan deket-deket ama gue, gue nggak lo rangkul nanti di sangka cewek-cewek gue nggak normal lagi, udah ayo cepet loe di belakang ya, gue nggak mau deket-deket ama loe”.
“Ega....”
“Bercanda lagi ayo cepat masuk”
“Hei ngapain kalian pulang, acaranya aja belum selesai”, Eric  yang mengejar mereka berdua untuk memberitahu bahwa acara belum selesai.
“Oh iya bener, ngapain kita pulang ya Ga!!”, Vito yang baru teringat kembali karena ia kira sekarang udah jam pulang, saat kuliah biasa tidak ada ospek.
“Dasar bodoh”, kata Eric.
Keesokan harinya di kampus, Eric sedang mengintip Amelia yang terlihat sedang berjalan di taman. Ega datang tiba-tiba dan berhenti tepat di depan mata Eric, saat itu Eric mengintip di balik pohon.
“Aduu..h loe ganggu gue aja, gue lagi ngikutin Amelia, upss”, kata Eric keceplosan.
“Nah loe ya ketahuan, ternyata seoarang Eric yang cuek abis ama cewe ternyata bisa juga suka ama cewe, gue kiraiin loe cuek ama cewe karena homo, nggak taunya, aiihhhh”, kata Ega dengan candanya.
“Apaan sih loe, gila aja gue homo, gue masih normal tau, awas loe ahh, minggir gue mau liat si Amelia! ganggu aja loe, minggirrr sana..!!”, Eric sambil menyuntrungkan badan Ega agar minggir dari penglihatan matanya.
“Ya... elo sih, tuh liat kemana dia ilang dah..”, kata Eric kecewa.
“Ya sori, sori ntar gue salamin ke dia ya, gue kan sekelas ama dia”
“Heh, jangan, janga..n mau ditaru dimana muka gue, awas aja loe ngasih salam ke dia, niii..”, katanya sambil mengenggam tangannya yang berarti dapat sebuah pukulan jika ia berani ngasih salam ke dia.
“Ampun, ampu...n bos, buruan loe deketin dia keburu dia  disambar orang, awas loh, loe banyak saingannya, karena si Amelia itu banyak yang suka loh”, Ega menyarankan ke Eric.
“Ogah ah, emang gue cowo apaan deketin cewe, mau taruh di mana harga diri gue”
“Eri....c sekarang tuh cowo nggak usah jual mahal, ntar loe malah ngejomblo terus loh, sampai pejantan tua”, sambil merangkul ke Eric.
Sambil melepaskan rangkulannya, “Ah biarin aja, kalo emang cewe itu suka ama gue, dia yang harus mendekati gue, bukan gue, gue bukan tipe yang ngejar-ngejar cewe, puas”, katanya dingin.
“Ahh, loe mah di kasih tau malah gitu, ya udah pokoknya loe jangan nyesel aja kalo si Amelia bakalan jalan ama cowo lain”
“Biarin aja masih banyak cewe lain kok”
“Yang bene....r, ya udah kalo gitu gue bakalan deketi Amelia ah, dia kan cewe tercantik di kampus ini, daaa Eriii...c”, Ega sambil pergi meninggalkan Eric.
“EGAA..... AWAS LOE YAH, Belum pernah kah dikau merasakan sepatu berada di mulut loe??, lagian sepatu gue mudah di lepas nih”, kata Eric sambil berlari ke Ega dan Ega pun ikut berlari.
“AMPUU....N... RIC” kata Ega sambil terus berlari.
Akhirnya pelaran pertama di kampus Eric di mulai. Eric duduk di bangku ke dua barisan ke 3, ia meminta ijin untuk tidak mengikuti ospek karena pelajaran kali ini sangat penting  dan akhirnya ia di ijinkan, setelah pelajaran ini dia akan absen dulu, saat dosen itu menerangkan ia hanya melamun aja, dan ia menggambar muka Amelia di bukunya, dan tiba-tiba dosen itu menghampiri Eric dan mengambil buku yang  digambar Eric tanpa di sadarinya.
“Apa ini.. tuan Eric APA INI!! apakah kamu mau belajar manajemen atau desain kamu malah  menggambar wanita terus di buku ini”, kata dosen itu ketus. Dan seisi kelas langsung ramai, dengan diisi tertawa mahasiswa di kelas itu.
“Annuu..nuu pak..”
“Bapak mohon kamu sekarang keluar dari kelas saya, kamu tidak boleh masuk pelajaran bapak selama seminggu, paham nak”, kata guru itu tersenyum masam.
“Tapi pak..”
dari mimik guru itu, guru itu tidak mau mendengar penjelasan Eric, ia langsung menunjuk pintu keluar dengan jarinya.
“Bisakah kalian diam, atau nasib kalian sama dengan anak itu”, kata dosen itu untuk menghentikan keramaian ini.
Lalu semuanya pada diam dan Eric langsung keluar kelas dan ia langsung berjalan menuju kantin kampus.
“Sialan..sialan..gara-gara Amelia gue harus di skors, lagian si Bapak kejam banget sih ama gue, belum tau siapa gue ya?”, gerutunya dalam hati. Ia pun berjalan-jalan di taman menuju kantin.
“Hi, Ricc.., napa loe keluar padahal ini kan belum waktunya istirahat”, kata Vito teman Eric dari SMP tapi ia dan Vito beda jurusan.
“Gue di keluarin ama dosen gue, gara-gara gue gambar doang”, katanya kesal.
“Emang loe ngegambar apaan sih, masa hanya menggambar  loe langsung  dikeluarin begitu aja”
“Nggak menggambar apa-apa kok..”, kata Eric gugup.
“Hayoo.. apaan, nggak mungkin hanya menggambar loe langsung di keluarin, udah ceritaiin aja masa loe nggak percaya sih ama gue”
“Ah.. nggak mau, udah kita makan aja yuk gue yang nraktir”, katanya mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka berdua ke kantin, “Ya udah jika loe nggak mau cerita ama gue,  gue mau nasi goreng plus juice mangga aja”, katanya.
“Yeee.., soal makanan aja langsung  melupaiin masalah, dasar loe ya”
setibanya di kantin Eric langsung memesan makanannya,  “mas minta nasi goreng 2 plus juice mangganya 2 ya mas cepetan nggak pake lama”, pinta Eric ke  writers sambil mengancungkan tangan.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol-ngobrol tentang masalah pribadi.
“Ric... gimana adik loe, sehat-sehat aja kan, gue ingin ngeliat adik loe udah lama gue nggak ngeliat wajah adik loe yang cantik”, Vito sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Apaan sih loe, Ervy sehat-sehat aja kok!, wah adik gue dalam bahaya bisa-bisa menjadi korban baru dari cowok yang bernama Vito Putra Pratama”, canda Eric.
“Apaan sih loe nggak lucu tau”, katanya sinis.
Lalu makanan dan minuman itu datang juga ke bangku mereka, dan mereka langsung melahapnya dengan santai.
Sambil mengunyah, “Heh, nymk..nymkk loe tau nggak ama ceweknya yang namanya Amelia, gila cantik banget kan, gue naksir loh ama dia”, kata Vito enteng.
“Ohouk.., apa loe naksir dia, sruttt”, karena kaget, dan keselek ia meminum juicenya, “loe nggak salah terus si Ita mau di kemanain, awas loh ya gue bilangin loh ke Ita”, Eric melanjutkan katanya.
“Jangan..jangan.., ntar? mampus gue, kalu ketahuan Ita, bisa-bisa gue di putusin, gue kan sayang banget ama dia, please Ric.., gue hanya bercanda kok jangan di anggap serius”, wajah Vito mengartikan dia menyesal mengatakan itu.
“Hei, hei jangan-jangan ngomong-ngomong yang tadi loe kan  tersedak!, aiihhh, gue bisa nebak loe suka ama Am....., mhmmhmmm”. Tangan Eric membukap mulut Vito, dan Vito pun tidak bisa bicara.
“Gila.. loe ya, kalau ngomong jangan keras-keras dong, malu gue tau tuh liat gue di liatin mereka, Hu....h”, kata Eric sambil melepaskan tangannya.
“Jadi benar loe suka Amelia, aihhh pokoknya gue dukung deh loe, bayangin ya ama loe seorang cowok terganteng dan terpintar bisa bergandengan dengan cewek tercantik dan terpintar di kampus ini wah pasti bikin iri semua orang gue jamin deh”, katanya pelan sambil memperagakannya.
“Apaan sih loe, Amiiin deh, mudah-mudahan bener kata loe gue bisa jalan ama Amelia”
“Yeee, di kira loe nggak mau tau-taunya mau juga, amin deh, ntar gue bantu loe ngedapetin dia, gue bisa nyuruh Ita untuk deketin dia ama loe gimana mau nggak”
“Boleh, tapi pokoknya ini rahasia kita ya, awas aja sampai bocor loe pernah merasakan bagaimana kelilipan pisau belum? Nah itu bakalan gue lakukan jika loe berani membocorkannya”, Eric mengancamnya dengan meyakinkan.
“Ah Eric kejam banget sih loe, gue nggak nyangka ternyata seorang Eric bisa sebegitu kejam, nggak jadi ah gue ngebantu loe..”
“Aaahhh, Vito please bercanda gue, ya..ya.. bantu gue please...”, katanya sambil memelas dan mengedip-mengedipkan matanya dengan genit.
“Ok, deh tapi sebagai imbalannya gue boleh datang ke rumah loe, gue ingin ketemu Ervy, boleh yaa..yaaa”, sambil tersenyum.
“Iya deh, tapi awas aja jika rencana kita bocor, liatin aja ntar”
“Iya deh, gue janji, GUE VITO AKAN BERJANJI TIDAK AKAN MEMBOKAR RENCANA KITA. SUEERRRRR KALAU GUE SAMPAI MEMBOKARNYA GUE BAKALAN KENA BUSUNG LAPAR DEH”, katanya sambil berdiri dan dengan tangan di angkat seperti orang berjanji dengan suara yang keras.
Eric menggeret Vito agar segera duduk, “Apaan sih loe udah malu ah, duduk buruan, iya..iyaa gue percaya ama loe deh. Eh liat itu bukannya Amelia aduh gimana gue mampus gue, gue pergi dulu ahh”, Eric gugup sampai-sampai juicenya tumpah karena kesenggol.
“Ric loe bisa tenang nggak sih, duduk dong!!  dia tuh nggak tau kalau loe tuh suka ama dia, tuh liat juicenya sampai tumpah ahh, loe liat akhirnya gue deh yang kena”, Vito sambil membersihkan bajunya yang terkena terkena juicenya Eric.
“Aduuh gimana loe tau kan gue itu jika ada cewek yang gue suka gue suka deg-degan, dan gue suka salting, makanya ayo kita pergi dari sini”, katanya nggak sabar ingin pergi.
“Sabar dikit dong, MAS tolong bersihkan ini”, katanya ke petugas kebersihan sambil keluar dari tempat duduknya dan menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman.
“Udah Ric, ayo deketin dia atau mau gue panggilin dia, Berapa Mbak”, sambil menyiku badan Eric.
“Apaan sih loe, nggak ah gue nggak mau malu.. gue”
“Yeee siapa yang mau manggil dia, ini..ni bayar makanannya kan loe yang nraktir gue. “Oh ya berapa mbak nasgor 2, juic mangga 2”, mukanya Eric agak memerah karena malu.
“Semuanya jadi 15 ribu”, kata kasir tersebut.
“Ni mbak maksih ya. Ayo Vit kita pergi dari sini.. buruan liat nih jantung gue udah berdebar keras seperti ...”, katanya gugup.
“AMELIA... sini dong, ada yang mau gue tanyain?”, kata Vito sambil melambaikan tangannya ke arah Amelia dan Eric pun langsung lemas ia kelihatan sangat gugup sekali, cemas sekali.
“Hi, Vit ada apa”, kata Amelia lembut sambil menghampirinya.
Saat Amelia mendekat Eric jadi salting, ia pura-pura sedang membaca brosur yang ia ambil di dekat meja kasir, sampai menutupi wajahnya.
“Misi, bacanya terbalik tuh brosurnya..”, kata Amelia lembut ke Eric.
“Ahh, ma...ma...masa sih, oh yaa he..he..hee, Hai, hai Lia”, katanya gagap banget sambil tersenyum malu.
“Hi juga, ada apa Vit manggil gue, nanyain Ita ya”, kata Amelia kembali ke arah Vito.
“Ah enggak nih ada yang mau kenalan ama loe, tuh orang yang sedang bergaya membaca brosur tadi”
“Oh, hai nama saya Amelia anak kedokteran, nama loe siapa, maklum murid baru..”, katanya sambil memberikan jabatan tangan ke Eric dengan senyuman yang sangat manis banget.
“Hai, na..na.nama sa..sa..ya E..Ric.. anak manajemen”, kata Eric gagap plus gugup bin salting bukan main sambil membalas jabatan tangan Amelia.
“Eric yah nama yang bagus, senang berkenalan denganmu Eric, tapi bisakah loe melepaskan tangan loe dari gue”, Amelia yang nggak enak tangannya terus di pegang.
“Ohh maaf”, katanya malu sambil wajahnya terus memerah sedangkan Amelia hanya tersenyum.
“Lia.. sini deh. Dia itu suka ama loe loh, loe harus bangga karena belum ada satupun cewek yang pernah di taksir dia, malah banyak loh yang naksir dia”,kata Vito membisikan ke Amelia.
“Apaan sih loe, jangan bercanda ah nggak lucu, masa baru kenal udah di comblangin”  katanya sambil mukanya memerah.
“Eh, dikasih tau, loe liat aja tingkahnya salting  banget kan jika dia deket loe, loe harus deketin dia terus, dia tuh orangnya liat deh dengan secara seksama cakep banget kan. Dia juga pintar loh.. baik banget lagi.. kurang apa lagi”, kata Vito meyakinkan Amelia.
“Vit, gue bukan orang yang gampangan jatuh cinta ama orang, gue juga nggak matre, gue ngak mau jika dia langsung jadi pacar gue, gue lebih suka jika gue dan Eric ta’arufan  dulu”, kata Amelia pelan.
‘Wah beruntung banget Eric punya pacar kaya dia, udah mah sholehah, pintar, tajir, cantik lagi, gue juga mau’, katanya dalam hati.
“Vit haloo. Loe ngelamunin apa sih, uh liat temen loe kasihan  dari tadi berbicara sendiri”, kata Amelia membuyarkan lamunan Vito dan memberitahu bahwa Eric dari tadi bicara sendiri. Padahal Eric berbicara sendiri karena ia gugup bukan main, yang ia ucap dari tadi adalah”aduh..aduh..jantung gue..”
“Eh sori, loe mau makan dulu ya, ya udah sana makan ntar kita lanjutin lagi ya, ntar gue bawa Eric deh..”
“Apaan sih loe, ya udah gue kesana dulu ya.. daa.....Eric... daa... Vito...”, katanya sambil meninggalkan Eric dan Vito.
“Vito.... gila loh ya, untung gue nggak pingsan, apaan sih manggil dia, ngajak kenalan lagi..uh...h gilaa..., gue mau nyari udara segar dulu ayoo Vit..”, kata Eric sambil mengipas-ngipaskan ke kepalanya.
 Lalu mereka pun pergi keluar kantin, dan mereka menuju taman, mereka duduk di bawah pohon.
“Gila..loe gue bisa turun pamor gue di hadapan dia, loe kan tau gue itu jika ama cewek sikap gue itu dingin, kalau anak-anak tau, tadi saat gue kenalan ama Amelia gue salting mau taruh dimana sikap gue”, sambil tiduran di bawah pohon itu.
“Loe juga sih masa jika deket ama cewe yang di suka langsung salting dan gugup kaya gitu, gue liat hanya loe doang yang sikapnya kaya gitu dari hasil pengamatan gue karena gue belajar sosiologi di samping kedokteran, 1 berbanding 1 milyar orang sikapnya sama kayak loe”, vito ikut-ikutan tidur-tiduran, aduh entah ya perkataan Vito itu benar atau enggak??
“Hmmh, balik yuk, BT gue di sini terus, pengen balik ke rumah pengen tidur di kasur gue yang empuk dengan AC yang menyala lalu medengarkan musik yang sendu.., udah ah gue pulang dulu ya”, kata Eric bangun dari tidur-tiduran lalu berdiri dan lari menuju mobilnya dan menyalakan mobilnya dan pergi.
“Hei, Ric tunggu dong katanya gue boleh datang ke rumah loe, gila perginya cepet bener.. yah.. gue ditinggal sendiri lagi, awas aja loe nggak bakalan gue bantu lagi, balik ah”, Katanya kesal, lalu ia berdiri dan menuju mobilnya dengan malas-malesan. Dan ia pun pergi dari kampus.
Pas mau keluar parkiran kampus, “perasaan ada yang terlupa tapi apa ya, kok gue lupa”, saat ia lihat orang yang berjalan masuk ke kampus ia teringat akan sesuatu hal, “Oh ya ngapain gue pergi, bentar lagi kan ada kuliah, bo.doh, bodohnya gue”, katanya bicara sendiri lalu ia pun balik ke pakiran dan menuju kelasnya.
‘Huh.. dasar Eric jadi gue kebawa perasaan pengen tidur di rumah, plus AC dan dengerin musik sendu, aaahhh ngantuk gue pengen buru-buru BALI....K!!’, gerutunya dalam hati.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar