HI..HI..Hiii kenalkan nama gue
Ervynda Nirmala, biasa dipanggil Ervy or Vie-Vie. Umur gue 16 tahun mau
menginjak 17 tahun. Gue sekarang sekolah di SMA Negeri di salah satu sekolah
favorit di kota besar. Di sini sistemnya kayak sekolah luar negeri kebanyakan, pake sistem KBK (Kurikulum
berbasis Kompetensi), jadi yang paling aktif adalah murid bukan guru, jadi enak
guru yah nggak terlalu susah payah menerangkan, dan murid, yang paling menderita karena harus mencari jawaban
sendiri, menyedihkan!! dan buku harus banyak. Ah tapi sih nggak apa-apa biar
anak Indonesia nggak malas belajarnya, mereka harus di ajarkan bagaimana
mencari suatu ilmu, karena ilmu susah di cari, biar nggak enaknya aja tinggal
baca dan ngapalin tanpa mengetahui susahnya cari ilmu itu.
Gue mempunyai banyak sekali
teman di sini. Gue mempunyai satu kakak laki-laki di sini, dia orangnya rese
abis, bawel, humoris, cuek abis ama cewek, meskipun begitu dia baik banget ama
gue mungkin gue adik satu-satunya kali yee disini.
Tiba-tiba, “Tinitit..tit..tinitit..tit..”,
alarm berbunyi hampir sepuluh menitan, dan Ervy belum terbangun juga, setelah
ia menyadari, dan baru sadar dari alam bawah sadarnya, bahwa alarmnya berbunyi,
ia terbangun secara tiba-tiba dan ia langsung melihat jamnya, “AAAAHHH TIDAAAK,
ERI....C, DASAR kenapa loe nggak
ngebangunin gue, liat nih udah jam 6, mampus gue, gue bisa telat nih” gerutunya
sambil loncat dari tempat tidur, ia langsung lari menuju ke kamar mandi, yang
berada gak jauh dari kamar tidurnya.
“Aduh, gue lupa ngerapiin tempat tidur lagi”,
ia pun balik lagi menuju tempat tidurnya, “Aduh gue bego apa, gue bisa telat
kalo ngerapiin tempat tidur dulu, ntar aja gampang nanti di beresin ama
pembantu aja, ngapain juga gue balik lagi. Dasar bego!! Bego..”, sambil berkata
sendiri, dan memukul jidadnya sendiri, ia pun balik lagi menuju kamar mandinya.
Lalu ia langsung mandi,”JEBYAR...JEBYUUR”
dengan secepat kilat ia mengambil air dengan gayung, entah terbanjur semuanya
pokoknya asalkan air dan sabun udah mengenai tubuhnya, langsung segera di bilas
dengan air, meskipun baru lima detik, ia mengusapkan sabunnya. Setelah selesai
mandi, dia langsung memakai baju tidurnya, dan
berlari keluar kamar mandi dan mengganti piyamanya dengan seragam
sekolah.
“Aduh mana buku fisika gue, sialan!!, hari
gini.. pake hilang lagi, ayo dong muncul gue buru-buru nih, please ngomong dong
dimana loe??, ntar gue nggak bakalan lagi ngelempar loe lagi deh, janjii..!,
ayo dong muncul”, ia mencari buku fisikanya di meja belajarnya di samping
tempat tidurnya, di bawah tempat tidurnya, semua rak buku dia liat dan
diobrak-abrik, “ aduuuuh mana sih, dalam keadaan gawat gini gue harus nyari buku
fisika sialan itu lagi, Rii....C loe liat buku fisika gue nggak”, dia
berteriak-teriak ke kakaknya, yang kamarnya ada di sebelah kamarnya, suaranya
memecah kesunyian pagi itu, sambil terus mencari bukunya .
sambil melihat jam di dinding,
“KAKA....K, cepetan sini, WHAT!”, sambil melihat ke jam dinding di kamarnya
yang bergambar klub sepak bola favoritnya Liverpool, “jam setengah TUJUH!!!,
udah ah bodo, paling tinggal disuruh keluar”, ia sudah kesal karena bukunya
tidak di temukan dan bibir dia pun manyun-manyun entah berapa senti.
Sang kakak yang mendengar
teriakan adiknya langsung menuju kamar adiknya dengan tergesa-gesa, dan ia pun
sudah berada di depan pintu, dia langsung masuk
dan bersamaan Ervy keluar menarik pintunya, “Aduh.., aduh, my
nose!!!”, kata Ervy sambil memegang
hidungnya, dan ia mundur beberapa langkah, ia melihat kakaknya di balik pintu
kamarnya, dan Ervy melirik marah ke kakaknya, dan Eric tertawa sambil meminta maaf dengan isyarat tangannya, dan
setelah itu sambil melihat, ia terheran-heran kamar adiknya berantakan banget
kaya rumah yang sedang di guncang gempa berkekuatan sepuluh pada skala richter,
dan seperti kapal pecah karena terjangan ombak yang sangat besar.
“Hei, kenapa sih, teriak-teriak aja, bisa-bisa
telinga gue budeg tiap pagi, kerjaannya teriak mulu. apaan ini berantakan kaya
gini kayak kapal pecah aja, ngapain sih loe dasar Vie-Vie! hanya pembuat
berantakan aja kerjaannya tiap hari”, sang kakak masuk ke dalam kamarnya,
sambil ikut membereskan buku yang berserakan.
Dan Ervy hanya mengganggap
perkataan Eric, seperti angin lalu aja, tidak di tanggapi, “Ric, loe tau nggak
buku fisika gue yang bersampul boneka teddy bear?, yang di depannya bertuliskan
FISIKA” ,sambil ia mencari-cari di semua sudut ruangan kamarnya sekali lagi.
”Udah gue cari di bawah kolong
tempat tidur, semua rak, nggak ada semuanya, gimana nih, pasti gue bakalan
terkena hukuman!, Ric please dong cariin? Ya..ya..” sambil ia memelas dan
memainkan lirikan matanya yang manis agar kakanya mau ikut mencarinya.
“Oh buku itu!, perasaan ada di ruang baca noh,
loe sendiri yang mengerjakannya kan tadi malam, loe ingat nggak?” sambil sang kakak
membantu adiknya merapikan tempat tidurnya.
“A..ap.apa, kenapa nggak bilang dari tadi!!,
liat nih gue udah telat, UUhhuuhhhuuuh!”, sambil ia langsung lari keluar kamar
dan menurunin tangga menuju ruang baca.
“Woi, emang loe tadi nanya gue
dimana buku fisika loe, kapan?, perasan barusan deh loe nanyanya!”, saat Eric
mengatakan hal itu, Ervy sudah keluar dari kamarnya.
“Ini gimana beresin dulu dong jangan langsung
ditinggal pergi”, Eric sambil membereskan buku yang berceceran.
“Ngapain jadi gue yang sibuk
beresin buku ini, emang gue pembantunya apa”, sang kakak yang baru sadar, lalu
ia mengikuti langkah adiknya keluar dan menuruni tangga.
“Vie, beresin dulu dong”, Eric
berteriak sambil menutup pintu kamar Ervy, dan ia melihat ke bawah, menuruni
tangga..
“Kakak aja deh yang beresin or
bik Inah aja, Vie-Vie buru-buru nih daadaaa”, setelah ia mengambil bukunya ia
langsung berlari keluar rumah dan menutup pintu dengan kencang.
“Kok gue sih, malas banget tau nggak sih
loe!!, gue masih ada urusan yang harus gue kerjain, yaitu beresin tempat tidur
gue sendiri, Vie loe denger nggak??, Yee dia nggak dengerin gue lagi, cape-cape
gue ngomong!, BII..., Kesini dong”, gerutu kakaknya kesal, omongannya nggak di
tanggapi lagi.
Ervy pun langsung berlari ke
luar rumah, yang di sebelah garasinya sudah bersandarnya sepeda miliknya, lalu
ia mengambil sepedanya dan ia langsung menggosehnya dengan sangat cepat, aduh
entah ya, apa ia udah dandan atau belum ia langsung aja pergi karena dari
rumahnya , dari rumah sampai ke sekolah membutuhkan waktu 30 menit sedangkan
jam masuk jam 7. Sekarang jam tangannya menunjukan pukul 6.45, ia pun langsung
menggosehnya dengan secepat kilat dan kecepatannya menandingi kecepatan mobil
F1.
Akhirnya ia tiba di parkir
sekolah, hampir aja dia nggak boleh masuk untung aja ada pak satpam yang baik
hati yang mempersilakan dia masuk, ia langsung menjatuhkan sepedanya begitu
saja tanpa di standarkan dulu, lalu ia tinggal pergi, masuk ke dalam sekolah
dan ia pun terlambat 5 menit, ia langsung berlari memasuki sekolahnya, larinya
nggak terlalu cepat karena terhalang roknya dan terdengar orang berlari di
sepanjang koridor sekolah membuat suara berisik padahal saat itu sekolah sudah
mulai sepi karena sudah di mulai pelajarannya.
Akhirnya ia sampai di depan
kelasnya, napasnya terengah-engah tapi ia tidak mempunyai waktu untuk
beristirahat, ia menelan ludahnya dulu baru ia memberanikan diri untuk mengetok
pintu kelasnya, lalu ia membuka pintunya, dan ia langsung memasuki kelasnya dan
seseorang telah menunggunya, duduk di bangku guru, ia memakai kacamata, dan
terlihat sangat tidak welcome.
“Ervynda Nirmala kamu sudah
telat 10 menit, hukumannya apa ya? kamu bebas memilihnya, kamu mau tetap di
situ atau keluar dari kelas ini SEKARANG!!”, celotehnya dengan suara yang
menggema di seluruh ruangan kelas dan siswa yang lain tidak berani menatap guru
itu.
Ervy hampir aja mengeluarkan
kata “AAAA!!!!”,untung aja dia menahan kagetnya, karena kaget setengah
mati, “Aaa..anuu, Bu maafkan saya, saya
terlambat, tapi saya ingin tetap di kelas Bu untuk belajar pelajaran Ibu,”
suaranya begitu halus, datar sekali dan pelan, sambil menelan ludahnya sendiri.
Dan Guru itu hanya tertawa kecil, “Maaf nak Ervynda
bisa kamu perjelas lagi”, suara guru itu begitu pelan tapi terdengar seperti
menantang.
“Maafkan saya bu, saya mau
masuk saja, saya ingin belajar pelajaran ibu!!”, sedikit berteriak tapi tetap
kepalanya sedikit menunduk tapi masih dapat melihat guru itu.
“Baiklah nak Ervynda, sekarang
kamu mengerjakan PR yang ibu berikan semuanya kan, nah kamu tulis semua PR itu
di papan tulis harus benar semuanya, kamu tidak akan duduk sebelum jawaban
semuanya benar”, sang guru itu mendekati Ervy sambil memberikan spidol.
“Baik bu tapi bolehkah saya menaruh tas saya
dulu, Bu?”, dan guru itu pun mengangguk dan Ervy masuk ke kelas dan menaruh
tasnya di bangkunya.
“Hari gini Ketua OSIS telat! Huh
sudah gak jaman deh”, kata salah satu murid cowok meledek Ervy dengan suara
agak pelan. Dan Ervy hanya melirik tajam ke arah cowok itu, dan cowok itu pun
langsung mengalihkan penglihatannya takut dengan tatapan Ervy yang siap
menerkam korbannya , itu pun kalo gak ada guru killer itu.
Dia pun langsung menulis semua
jawaban PR fisika itu dengan benar, beruntunglah ia karena ia tergolong siswi
terpintar di sekolah ini dan ia pun bisa sekolah disini karena beasiswa.
Sekolah ini merupakan sekolah elite yang kebanyakan siswanya adalah anak
direktur, pejabat negara baik dalam maupun luar negeri, saudara anggota lembaga
tinggi negara. Dan sekolah ini terkenal dengan fasilitas yang super lengkap.
Setelah bel istirahat berbunyi
ia langsung menuju kantin bersama sahabatnya. “ Ayo dong cepetan laper nih gue,
tadi pagi gue belum sarapan gara-gara nyari buku fisika yang rese itu! udah gitu
gue telat bangun lagi jadi mana sempat untuk makan”, gerutunya sambil ia
mempercepat langkahnya.
Sambil melirik kekanan-kekiri,
“Loe ngomong ama gue ya!, Ohh.sorry lagi nggak conect, tapi tungguin dong,
cepet banget sih loe jalan, hei pelan-pelan dong”, kata salah satu teman Ervy
yang cewek. Oh ya kenalin sahabat gue ada 4, 2 cewek, dan 2 cowok.
kenalin yang pertama namanya
Velli suka dipanggil Vell nama panjangnya Aravellin Putri Cahyani, sambil
berlari kecil ia mengikuti langkah Ervy
yang cepat. “Vie tunggu dong, ya ampun langkah loe kayak gajah aja, gede-gede”
Kenalin ini teman gue yang
cowok namanya Ferryo Nugraha disingkat Ryo, orangnya agak aneh, suka bercanda dan
ia pun berjalan dengan cepat.
“Berisik amat si loe, ya udah gue duluan aja
ya daadaa, gue udah laper banget nih”, Ervy sambil memegang perutnya yang sudah
keroncongan dan berlari menuju kantin untuk makan.
Teman cewek gue ada Mira, nama
panjangnya Mira Celine, ia merupakan sekretaris OSIS. Dan teman cowok gue satu
lagi merupakan cover Boys di sekolah ini namanya Aldi ia keturunan bule, ya
lumayan lah walaupun hanya Opanya yang bule, dia mendapatkan paling tidak
sedikit gennya. Kulitnya yang putih, badannya yang atletis, mukanya seperti
anak-anak, pokoknya manis banget deh, ia mempunyai jabatan sebagai wakil ketua
OSIS, dan ketua eskul Basket.
Orang-orang menganggap Ervy
orangnya rame, ceria, enak di ajak ngobrol, pintar, cantik lagi, kulitnya yang
putih, rambutnya panjang dan hitam, lurus, mukanya baby face, tinggi, langsing,
rapi, dan dandanannya natural. Tapi...
“Ehemmm...”, kata Ervy
berdehem ke gerombolan cewek-cewek yang baru aja keluar dari kelas mereka,
“Bajunya bagus banget ya sudah di keluarin, eh baju yang bekas bayi masih dipake, gak modal banget sih”,
dengan mata yang sedikit angkuh, “Kalo mau bergaya-gaya bukan di sini Mbak! Ini
sekolah, dimana kita berpakaian seragam yang rapi, sopan, bersih, dan yang
jelas gak kekecilan, apalagi di keluarin kaya bukan anak baik-baik, kalo mau
baju dikeluarin noh di sinetron Mbak. Buat apa ada peraturan sekolah kalo buat
dilanggar. Peraturan sekolah itu baru secuil, masa peraturan yang kecil ini
udah dilanggar gimana kalo peraturan besar yang berlaku di negara kita, kalo kecil aja
udah dilanggar gimana? kapan dong negara kita maju kalo peraturan yang masih
kecil ini aja dilanggar oleh anak yang masih bau kencur”, sambil melipat
tangannya dan melihat sinis anak kelas 1 itu.
“Apa perlu saya menandatangani
kartu pelanggaran siswa, oh iya saya lupa memberitahukan ke kalian, saya
mempunyai wewenang di sekolah ini untuk menandatangani siswa yang melanggar
peraturan di sekolah ini karena saya ketua OSIS mengerti, saya gak pilih-pilih,
baik kalian yang masih kelas 1 ataupun kakak kelas saya, ataupun saya sendiri
karena saya tadi dapat tandatangan dari guru tata tertib karena saya telat!”,
Ervy kembali berceramah, dan segerombolan anak-anak itu langsung memasukan baju
mereka yang di keluarkan.
“Awas aja saya tau muka kalian
jangan sampai saya melihat kalian melanggar peraturan lagi, kalo kalian gak
percaya tanyakan saja ke teman kalian siapa yang pernah ketegur sama saya
sebulan yang lalu tengah merokok di lingkungan sekolah, dan pas saya ketemu
mereka lagi saat merokok, liatin apa yang saya lakukan pada dia, saya gak
pernah takut kalo dalam urusan kebenaran, CAMKAN itu! Sana, awas saya memperingatkan
kalian lagi jangan sampai ketemu saya pas kalian mengeluarkan baju kalian”,
setelah Ervy ngomong panjang lebar akhirnya ia melepaskan segerombolan anak
cewek itu, dan orang yang melihat Ervy tengah memceramahi karena baju yang di
keluarkan, para siswa yang saat itu bjau di keluarkan langsung buru-buru
memasukan lagi baju mereka. Karena mereka takut setelah Ervy memandangi
sekitarnya, sedangkan temna-temannya hanya tertawa saja melihat Ervy
menceramahi anak cewek itu.
“Vie, kasihan tau, loe masa
menceramhi mereka panjang lebar kaya gitu, kan kasihan mereka kan
cantik-cantik, apalagi mereka kan anggota Cheers loe”, kata Ryo sedikit kecewa.
“Kan gue udah bilang, gue gak
pilih-pilih, meskipun waktu itu baju loe di keluarin gue juga akan berlaku sama”
“Ya... kalo gitu gue harus
hati-hati dong”, dan Ervy mebalas dengan senyuman kecut.
Tapi di lain pihak kadang-kadang orang
menganggap rendah Ervy karena menganggap ia miskin, apalagi cewek-cewek di
sekolah itu banyak yang membencinya, entah karena kelebihan yang ia miliki atau
karena ia dianggap miskin oleh siswa-siswi yang ada di sini, karena yang lain
kendaraannya mobil, dia sendiri yang kendaraannya sepeda.
Banyak anak cowok naksir ama
dia tapi tidak ada seorang pun yang diterima, ia lebih memilih jadi temanan
daripada jadi pacarnya, jadi ia mempunyai banyak sekali teman cowok dan dia
tidak membeda-bedakan temannya, dan dia juga nggak terlalu takut dekat dengan
cowok .
Setelah ia sampai ke kantin ia
langsung meraih makanan yang disajikan di kantin itu, dan ia langsung menuju
kursi kosong yang berjejer di ruang makan itu dengan muka yang sumringah.
Saat ia menuju kursi kosong
itu tiba-tiba ia tersungkur karena kakinya diganjal oleh kaki cewek yang sedang
duduk di depan bangku yang ia tuju.
Ia langsung berdiri dan merapikan bajunya dan
ia melihat makanan yang jatuh berserakan di depannya, dengan ekspresi sedih, “Ya
makanan gue”, dan ia pun langsung membersihkan makanannya agar tidak
berserakan.
“Hei loe, makanya kalo jalan tuh liat-liat
nggak langsung nyelonong lari begitu
aja”, kata cewek yang tadi melonjorkan kakinya dengan wajah jutek.
“Ooh, atau jangan-jangan kamu lagi kelaperan
ya, dasar miss KERE” kata temannya di sebelahnya.
“Emang kenapa kalo gue
kelaparan, and gue miskin?” Ervy berkata dengan nada agak marah dan menantang.
“Hei harusnya loe tuh sadar
tempat sesungguhnya loe tuh bukannya disini!, disini tempat orang berduit,
bukan tempat gelandangan kaya loe, tau
nggak sih loe!!”, cetus cewek yang tadi sambil berdiri dan menunjuk muka Ervy.
“Bener Van, masa ada sih, gelandangan sekolah
disini, nggak elit gitu lho hahahaha”, Sonia, orang yang berada di sebelah
Vanny tertawa bersama dengan teman-temannya.
“Hai Vany, emang gue miskin,
tapi gue memanfaatkan kekayaan ortu gue, nggak kaya loe, loe tuh apa, uang aja
masih minta ama ortu, maluuuu dong!!, loe tuh bisanya hanya minta uang ke bokap
and nyokap loe ingat loe tuh belum bekerja so belum punya pengahasilan, jadi
selama ini loe tuh ngutang ke mereka maluuuu dong ngutang mulu”, Ervy
membalasnya dengan kasar.
“Dasar loe tuh ya, bilang aja
loe iri ama gue, nggak usah ngomong gitu lagi deh”, balas Vanny ke Ervy.
“Loe mau gue labrak, gue nggak
takut ama loe, ayuk sini gue ladeni loe”, lawan Sonia ke Ervy.
“Heh, loe emang berani ama
gue, sini kalau berani, gue nggak takut ama loe”, Ervy membalasnya dengan ketus
sambil mendemostrasikan gaya silatnya, karena Ervy merupakan pemegang sabuk
hitam di Tae Kwon Do.
Sonia, Vanny and the ganknya
hanya diam saja, karena tidak berani melawan wanita yang biasanya lembut yang menjelma menjadi wanita perkasa
itu yang sekarang sedang berdiri di samping mejanya.
Teman-teman Ervy datang dan
langsung membantu membersihkan makanan yang berserakan di lantai.
“Ervy napa loe, kok bisa jatuh sih makanan
loe, tuh liat baju loe juga kotor”, Ryo berkata sambil ikut membersihkan
makanan yang berceceran.
“Ama gue makanannya gue buang!!,
ya pastilah baju gue kotor dan makanan berceceran karena gue tadi jatuh”, jawab
Ervy agak kesal
“Udah-udah nggak usah berisik,
berisik gue dengernya, Taaaammmm!!!! pinjam lap pel dong mau di pel nih”, Ervy
meminta pel ke Tam dengan suara yang
menggelegar seluruh kantin, ia merupakan pegawai kebersihan.
Dan Tam pun datang sambil membawa seperangkat
kebersihan, dengan secepat kilat. Karena ia tahu seperti apa watak Ervy.
“Udah Vie, biar saya aja yang
membersihkan ini, lebih kamu makan aja”, Tam mulai mengepel lantai tadi yang
terkena tumpahan makanan.
“Makasih banget ya, Tam kamu
baik banget deh, semoga aja ntar kamu mendapat suami yang baik, yang mau
menerima kekuranganmu.”
Ervy tersenyum kepada Tam. Tam
pun membalas senyumannya. Di sekolah ini yang perduli dengan pegawai yang satu
ini hanya geng Ervy doang. Tam merupakan pegawai kebersihan yang teladan di
sekolah ini, ia belum mempunyai suami karena terhalang oleh kondisinya yang
cacat yaitu tidak mempunyai kaki, sebelah kakinya harus diemputasi saat ia
mengalami kecelakaan saat masih kecil, dan kaki barunya merupakan kaki buatan
yang di dapatnya dari hasil iuran geng Ervy.
“Ya udah ya Tam, Vie makan
dulu ya, sekali lagi Thanks ya”, ia pun kembali ke meja yang berisi makanan dan
ia pun kembali makanan yang sama dan langsung duduk di bangku yang kosong.
Taminem adalah kepanjangannya,
ia merupakan yatim piatu, di sekolah ini Tammy tidak di sukai dengan siswa
disini karena cacatnya. Tapi di sisi lain hanya geng Ervy lah yang mau
berteman. Oleh sebab itu kadang Tammy menganggap Ervy adalah anaknya sendiri
meskipun ia belum pernah merasakan punya anak.
Saat ia berbalik menuju bangku
yang kosong, langkahnya terhenti, lalu ia berbalik lagi, “Hei, Van, ini sekolah
bukan diskotik, jadi kalo pake perhiasan yang wajar-wajar aja deh, mencolok
banget sih loe pake perhiasannya kaya wanita yang sering nongkrong di pinggir
jalan saat malam hari, ini sekolah untuk mencari ilmu, bukan untuk gaya-gayaan
and mengeluarkan kekeyaan. Saya gak mau melihat loe and the gank loe make
perhiasan yang mencolok kayak gini besok, atau saya akan melaporkan ke kepsek,
agar loe mendapat skorsing, ngerti?”, setelah berceramah lagi, Ervy pun
berbalik badan dan menuju bangku tempat makan, dan teman-temannya mengikutinya
dari belakang. Dan wajah Vanny and the gank sangat shock and gondok abis di
perlakukan kaya gitu di depan siswa-siswi yang ada di kantin.
Saat mereka duduk di bangku,
“Ervy ntar loe ikutan semangatin gue ya, ntar kan gue tanding ama anak smansa”,
Aldi memohon ke Ervy dengan suara yang lembut.
“Ya.., pasti lah gue kan
anggota Cheerleaders Highy, gue pasti bakalan dukung loe, tapi maaf aja gue
nggak bisa ikut Cheers, karena gue hanya sebagai pelatih, tapi gue pasti bakalan
datang ke pertandingan loe”.
“Makasih ya Ervy, gue pasti bakalan menangin
pertandingan itu demi loe dan gue bakalan jadi MPV-nya”
“Yakin bener loe, awas aja
kalah ntar loe nraktir gue ya jika loe kalah”
“Pastilah, gue nggak bakalan kalah karena kan
ada kamu yang bikin gue semangat terus”, muka Aldi agak memerah dan Ervy hanya
tersenyum.
“Aaiiih, ada yang sedang PDKT
nih”, Mira menggoda Ervy sambil menyiku tangannya ke badan Ervy.
“Idih apaan sih loe, dia kan
sahabat gue wajar kan gue semangatin dia”.
“Semangatin, apa semangatin hayooo”, ujar
Velli.
“udah ah makan aja ntar keburu
masuk”, Ervy memperalihkan pembicaraan.
“wah-wah-wah bakalan ada yang
jadian nih bentar lagi, siapa ya kira-kira orangnya”, Mira menggoda Aldi dengan
matanya yang menunjuk arah ke Aldi.
“Berisi......k, udah dong
makan, gue ntar jadi nggak makan mendengarkan ocehan kalian, udah dong hentikan
bicaranya, gue mau makan yang enak”, ucap Ervy agak sedikit kesal.
‘Iya..iya diem dong, calon
pacar Aldi marah nih yee”, goda Ryo ke Ervy.
“RYO...berisik tau, loe pernah
merasakan nggak kelilipan sendok di mata loe, karena kalo belum gue mau ngasih
ke loe mumpung sendok gue masih steril”, Ervy menggoda Ryo dengan ancamannya.
“Aduuh, Vie maaf, maaf janji
gue nggak bakalan lagi gangguain loe, udah dong maaf Vie!”, Ryo meminta maaf
sambil memegangsendok kepunyaan Ervy agar tidak di colok ke matanya.
Akhirnya bel masuk pun tiba,
sambil menuju kelas mereka berbincang-bincang.
“Adu..h Kenyang, gila makanannya
enak banget, ntar gue minta ah buat di rumah lumayan gratis”, ujar Ervy sambil
memegang perutnya.
“Perasaan biasa aja deh,
rasanya sama seperti biasanya, nggak ada yang istimewanya sama sekali”, sanggah
Mira.
“Mungkin karena loe lagi laper
aja, makanan yang di bilang biasa aja, mungkin di lidah loe di interprestasikan
enak”, kata Aldi menyindir Ervy.
“Liat!! bu Mia udah di depan
kelas ayo cepetan masuk”, kata Velli sambil mulai berlari memasuki kelasnya
yang di ikuti oleh yang lainnya.
Jam pulang datang lebih cepat
karena guru-guru ada rapat mengenai program pelajaran dalam tahun ajaran baru
ini.
“Tumben banget sih guru rapat
kita di suruh pulang, nggak biasanya, tapi nggak apa-apa yang penting tidak
ketemu guru killer, pak Angger, ih serem, namanya aja seperti Angry = Angger
hampir sama kan, nama dengan mukanya sama-sama seremnya”, ujar Ryo sambil
bergidik.
“Ya udah, gue mo ganti baju
dulu ya mau latihan Cheers, loe nggak latihan Aldi”, Ervy sambil membuka lokernya.
“Iya, ntar lagi gue mo sholat
dulu, bentar lagi Dhuhur, sholat bareng yuk”, Aldi sambil mengambil baju
basketnya dan alat sholat di lokersnya, yang bersebelahan dengan lokers Ervy.
“Iya ntar masih 25 menit lagi,
gue mau ganti baju latiahan dulu habis itu langsung ke mesjid”, ujarnya.
“Hei, gue kok nggak di ajak,
sentimen loe ya ke gue, gara-gara gue tadi gangguin loe ya”, ujar Ryo sambil
cemberut yang sedang berdiri di sebelah Aldi.
Sedangkan yang lainnya hanya
tertawa karena muka Ryo sangat lucu jika Ryo ngambek.
“Aiihhhh ada yang ngambek nih,
Ryo muka loe lucu deh kalo lagi ngambek kaya Shincan, haa.....”, canda Velli ke
Ryo.
“Berengsek loe katain gue kaya
Shincan awas loe ya, sini gue poles loe”, Ryo sambil memoles kepala Velli.
“Ampun Ferryo” kata Velli
sambil tertawa, dan yang lainnya ikutan tertawa juga.”Udah, udah berisik”, kata
Ervy terganggu.
“Ric.., pelanan dikit dong
jalan loe, buru-buru amat sih masih lama tau nggak masuknya”, kata Ega teman
Eric kakaknya Ervy. Mereka sedang berada di kampus, tempat Eric belajar.
“Eh lo tau kan gue ketua
ospek, dan sekarang udah jam dua belas lebih empat puluh, masa ketua terlambat
gimana nanti kata bawahan gue”
“Yee.. tapi baju lo itu..tu,
masa ke kampus masih pake sandal jepit lo nggak malu”, Raegan Priyadi Anwar memberi
tahu Eric.
Lalu Eric melihat ke bawah,
“Ya ampun napa loe baru bilang!! pantesan dari tadi saat gue jalan pada tertawa
ke gue, tau-taunya mereka yang menertawakan gue”, lalu Eric membalikan badan
dan berlari ketempat pakiran, setelah ia mengganti sandal jepitnya dengan
sepatunya ia berlari lagi ke lapangan untuk membuka orientasi mahasiswa baru di
kampusnya.
Ega menunggu di pintu masuk
kampus, “Ric tungguin gue dong”, Ega yang baru sadar ternyata Eric telah
berlari melewati dirinya, dan ia pun ikut berlari.
Saat tiba di lapangan semua
panitia ospek pada melihat Eric dengan muka masam, “Eric gimana sih loe masa
ketua telat sih, kalo telatnya dua lima menit sih nggak apa-apa, ini setengah
jam Ric, liat semua peserta udah pada baris, lagian loe kan ketuanya yang harus
menjadi pembina upacara, mana jas loe Ric”, kata Shinta sekretaris kegiatan
ini.
“Ya ampun masih di mobil gue,
kenapa gue sial banget sih??“, lalu Eric membalikan badannya dan berlari, saat
berlari melewati dirinya, Ega baru aja
datang, dengan ngos-ngosan. “Hei Ric! mau kemana lagi tuh anak?? Huh”,
bicaranya pada diri sendiri.
Eric berlari menuju pakiran dan membuka
bagasinya dan mengambil jas kampus setelah itu ia menutupnya kembali dan ia
berlari lagi dan mengenakan jas kampusnya sambil berlari, sesekali ia harus
berhenti larinya dan balik lagi untuk mengambil sesuatu yang jatuh, akhirnya ia
sampai juga di lapangan dengan nafas yang tergopoh-gopoh, tiba-tiba saat
sebelum upacara di mulai ia merasakan perutnya sakit, lalu ia bilang ke Shinta
bahwa sekretaris ospek ini bahwa dia sedang sakit perut sehingga pemimpin
upacara di gantikan oleh Vito. Vito merupakan salah satu sahabatnya setelah
Ega. Setelah upacara pembukaan di buka ia berdiri di belakang peserta ospek,
sesekali ia melihat kesekeliling kampusnya, pandangannya terhenti.
Saat ia melihat seorang cewek
yang sangat cantik, rambutnya panjang, putih sedang berjalan dengan pacar Vito,
dia baru melihat cewek ini ada di kampusnya ia berpikir pasti ini anak baru, ia
langsung terpesona oleh senyumannya cewek itu, ia baru melihat ada cewek yang
mempunyai senyuman semanis itu selain adiknya, Eric sampai terbengong-bengong
melihat cewek itu sampai-sampai langkah kakinya ia liat, bahkan saat bayangan
cewek itu sudah nggak ada dia masih mencari-carinya.
Setelah selesai semua peserta
ospek masuk kelas masing-masing untuk di beri pengarahan. “Hei Ric napa sih loe
ngelamun mulu, ada apa sih”, kata Ega ingin tau.
“Mau tau aja lo urusan gue”,
kata Eric membalasnya dengan sinis.
“Iya ada apa?, Eric..Halloow
loe masih hidup kan Ric”, kata Vito sambil melembai-lambaikan tangannya di
depan muka Eric, lalu ia melihat ke arah Eric melihat.
“Oooooohhhhh, Amelia bukan”,
kata Vito.
Tiba-tiba Eric tersadar dari
lamunannya, “Amelia, jadi itu namanya”.
“Jadi loe dari tadi ngelamun
gara-gara Amelia ya, dia emang anak baru, baru kemarin dia pindah, hayo ada
apa”
“Apaan sih loe, nggak ada
apa-apa”
“Lo suka ya ama Amelia”,
potong Vito
“Ikut campur aja, enggak kok,
gue nggak naksir ama dia, PD banget sih lo”, kata Eric kalang kabut.
“Udah nggak usah di tutup-tutupi
lo tuh orangnya paling nggak bisa bo’ong”, kata Ega yang mendengar perkataan
mereka dari tadi.
“Yee nih orang nyambung aja”,
balas Eric..
“Iya, ntar gue sampein ke Amelia
deh”, kata Vito usil.
“Nggak ah, masa baru ngeliat
orang udah mau di sampein, aneh lo, udah yuk kita pulang bentar lagi anak-anak
juga pulang, daaa Vito, Ega”
“Yee di bantuin malah ngelak,
ya udah ayo Ga kita pulang”, kata Vito sambil merangkul Ega.
“Iiih jangan rangkul-rangkul
gue masih normal tau”, kata Ega melepas rangkulan Vito.
“Yeee.... siapa yang mau ama
loe, ini kan hanya tanda persahabatan kita, Ga mau kemana loe, numpang dong gue
lagi nggak bawa mobil nih di servis, ya Ga”
“Tapi jangan deket-deket ama
gue, gue nggak lo rangkul nanti di sangka cewek-cewek gue nggak normal lagi,
udah ayo cepet loe di belakang ya, gue nggak mau deket-deket ama loe”.
“Ega....”
“Bercanda lagi ayo cepat
masuk”
“Hei ngapain kalian pulang, acaranya
aja belum selesai”, Eric yang mengejar
mereka berdua untuk memberitahu bahwa acara belum selesai.
“Oh iya bener, ngapain kita
pulang ya Ga!!”, Vito yang baru teringat kembali karena ia kira sekarang udah
jam pulang, saat kuliah biasa tidak ada ospek.
“Dasar bodoh”, kata Eric.
Keesokan harinya di kampus,
Eric sedang mengintip Amelia yang terlihat sedang berjalan di taman. Ega datang
tiba-tiba dan berhenti tepat di depan mata Eric, saat itu Eric mengintip di
balik pohon.
“Aduu..h loe ganggu gue aja,
gue lagi ngikutin Amelia, upss”, kata Eric keceplosan.
“Nah loe ya ketahuan, ternyata
seoarang Eric yang cuek abis ama cewe ternyata bisa juga suka ama cewe, gue
kiraiin loe cuek ama cewe karena homo, nggak taunya, aiihhhh”, kata Ega dengan
candanya.
“Apaan sih loe, gila aja gue
homo, gue masih normal tau, awas loe ahh, minggir gue mau liat si Amelia! ganggu
aja loe, minggirrr sana..!!”, Eric sambil menyuntrungkan badan Ega agar minggir
dari penglihatan matanya.
“Ya... elo sih, tuh liat
kemana dia ilang dah..”, kata Eric kecewa.
“Ya sori, sori ntar gue
salamin ke dia ya, gue kan sekelas ama dia”
“Heh, jangan, janga..n mau
ditaru dimana muka gue, awas aja loe ngasih salam ke dia, niii..”, katanya
sambil mengenggam tangannya yang berarti dapat sebuah pukulan jika ia berani
ngasih salam ke dia.
“Ampun, ampu...n bos, buruan
loe deketin dia keburu dia disambar orang,
awas loh, loe banyak saingannya, karena si Amelia itu banyak yang suka loh”,
Ega menyarankan ke Eric.
“Ogah ah, emang gue cowo apaan
deketin cewe, mau taruh di mana harga diri gue”
“Eri....c sekarang tuh cowo
nggak usah jual mahal, ntar loe malah ngejomblo terus loh, sampai pejantan tua”,
sambil merangkul ke Eric.
Sambil melepaskan
rangkulannya, “Ah biarin aja, kalo emang cewe itu suka ama gue, dia yang harus
mendekati gue, bukan gue, gue bukan tipe yang ngejar-ngejar cewe, puas”,
katanya dingin.
“Ahh, loe mah di kasih tau
malah gitu, ya udah pokoknya loe jangan nyesel aja kalo si Amelia bakalan jalan
ama cowo lain”
“Biarin aja masih banyak cewe lain kok”
“Yang bene....r, ya udah kalo gitu gue bakalan
deketi Amelia ah, dia kan cewe tercantik di kampus ini, daaa Eriii...c”, Ega
sambil pergi meninggalkan Eric.
“EGAA..... AWAS LOE YAH, Belum pernah kah dikau
merasakan sepatu berada di mulut loe??, lagian sepatu gue mudah di lepas nih”,
kata Eric sambil berlari ke Ega dan Ega pun ikut berlari.
“AMPUU....N... RIC” kata Ega
sambil terus berlari.
Akhirnya pelaran pertama di
kampus Eric di mulai. Eric duduk di bangku ke dua barisan ke 3, ia meminta ijin
untuk tidak mengikuti ospek karena pelajaran kali ini sangat penting dan akhirnya ia di ijinkan, setelah pelajaran
ini dia akan absen dulu, saat dosen itu menerangkan ia hanya melamun aja, dan
ia menggambar muka Amelia di bukunya, dan tiba-tiba dosen itu menghampiri Eric
dan mengambil buku yang digambar Eric
tanpa di sadarinya.
“Apa ini.. tuan Eric APA INI!!
apakah kamu mau belajar manajemen atau desain kamu malah menggambar wanita terus di buku ini”, kata
dosen itu ketus. Dan seisi kelas langsung ramai, dengan diisi tertawa mahasiswa
di kelas itu.
“Annuu..nuu pak..”
“Bapak mohon kamu sekarang
keluar dari kelas saya, kamu tidak boleh masuk pelajaran bapak selama seminggu,
paham nak”, kata guru itu tersenyum masam.
“Tapi pak..”
dari mimik guru itu, guru itu
tidak mau mendengar penjelasan Eric, ia langsung menunjuk pintu keluar dengan
jarinya.
“Bisakah kalian diam, atau
nasib kalian sama dengan anak itu”, kata dosen itu untuk menghentikan keramaian
ini.
Lalu semuanya pada diam dan Eric
langsung keluar kelas dan ia langsung berjalan menuju kantin kampus.
“Sialan..sialan..gara-gara Amelia
gue harus di skors, lagian si Bapak kejam banget sih ama gue, belum tau siapa
gue ya?”, gerutunya dalam hati. Ia pun berjalan-jalan di taman menuju kantin.
“Hi, Ricc.., napa loe keluar
padahal ini kan belum waktunya istirahat”, kata Vito teman Eric dari SMP tapi
ia dan Vito beda jurusan.
“Gue di keluarin ama dosen
gue, gara-gara gue gambar doang”, katanya kesal.
“Emang loe ngegambar apaan
sih, masa hanya menggambar loe
langsung dikeluarin begitu aja”
“Nggak menggambar apa-apa
kok..”, kata Eric gugup.
“Hayoo.. apaan, nggak mungkin
hanya menggambar loe langsung di keluarin, udah ceritaiin aja masa loe nggak
percaya sih ama gue”
“Ah.. nggak mau, udah kita
makan aja yuk gue yang nraktir”, katanya mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka berdua ke
kantin, “Ya udah jika loe nggak mau cerita ama gue, gue mau nasi goreng plus juice mangga aja”,
katanya.
“Yeee.., soal makanan aja
langsung melupaiin masalah, dasar loe
ya”
setibanya di kantin Eric
langsung memesan makanannya, “mas minta
nasi goreng 2 plus juice mangganya 2 ya mas cepetan nggak pake lama”, pinta
Eric ke writers sambil mengancungkan
tangan.
Sambil menunggu pesanan
datang, mereka mengobrol-ngobrol tentang masalah pribadi.
“Ric... gimana adik loe,
sehat-sehat aja kan, gue ingin ngeliat adik loe udah lama gue nggak ngeliat
wajah adik loe yang cantik”, Vito sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Apaan sih loe, Ervy
sehat-sehat aja kok!, wah adik gue dalam bahaya bisa-bisa menjadi korban baru
dari cowok yang bernama Vito Putra Pratama”, canda Eric.
“Apaan sih loe nggak lucu
tau”, katanya sinis.
Lalu makanan dan minuman itu
datang juga ke bangku mereka, dan mereka langsung melahapnya dengan santai.
Sambil mengunyah, “Heh,
nymk..nymkk loe tau nggak ama ceweknya yang namanya Amelia, gila cantik banget
kan, gue naksir loh ama dia”, kata Vito enteng.
“Ohouk.., apa loe naksir dia,
sruttt”, karena kaget, dan keselek ia meminum juicenya, “loe nggak salah terus
si Ita mau di kemanain, awas loh ya gue bilangin loh ke Ita”, Eric melanjutkan
katanya.
“Jangan..jangan.., ntar?
mampus gue, kalu ketahuan Ita, bisa-bisa gue di putusin, gue kan sayang banget
ama dia, please Ric.., gue hanya bercanda kok jangan di anggap serius”, wajah
Vito mengartikan dia menyesal mengatakan itu.
“Hei, hei jangan-jangan
ngomong-ngomong yang tadi loe kan tersedak!, aiihhh, gue bisa nebak loe suka ama
Am....., mhmmhmmm”. Tangan Eric membukap mulut Vito, dan Vito pun tidak bisa
bicara.
“Gila.. loe ya, kalau ngomong
jangan keras-keras dong, malu gue tau tuh liat gue di liatin mereka, Hu....h”,
kata Eric sambil melepaskan tangannya.
“Jadi benar loe suka Amelia,
aihhh pokoknya gue dukung deh loe, bayangin ya ama loe seorang cowok terganteng
dan terpintar bisa bergandengan dengan cewek tercantik dan terpintar di kampus
ini wah pasti bikin iri semua orang gue jamin deh”, katanya pelan sambil
memperagakannya.
“Apaan sih loe, Amiiin deh,
mudah-mudahan bener kata loe gue bisa jalan ama Amelia”
“Yeee, di kira loe nggak mau
tau-taunya mau juga, amin deh, ntar gue bantu loe ngedapetin dia, gue bisa
nyuruh Ita untuk deketin dia ama loe gimana mau nggak”
“Boleh, tapi pokoknya ini
rahasia kita ya, awas aja sampai bocor loe pernah merasakan bagaimana kelilipan
pisau belum? Nah itu bakalan gue lakukan jika loe berani membocorkannya”, Eric mengancamnya
dengan meyakinkan.
“Ah Eric kejam banget sih loe,
gue nggak nyangka ternyata seorang Eric bisa sebegitu kejam, nggak jadi ah gue
ngebantu loe..”
“Aaahhh, Vito please bercanda
gue, ya..ya.. bantu gue please...”, katanya sambil memelas dan
mengedip-mengedipkan matanya dengan genit.
“Ok, deh tapi sebagai imbalannya
gue boleh datang ke rumah loe, gue ingin ketemu Ervy, boleh yaa..yaaa”, sambil
tersenyum.
“Iya deh, tapi awas aja jika
rencana kita bocor, liatin aja ntar”
“Iya deh, gue janji, GUE VITO
AKAN BERJANJI TIDAK AKAN MEMBOKAR RENCANA KITA. SUEERRRRR KALAU GUE SAMPAI
MEMBOKARNYA GUE BAKALAN KENA BUSUNG LAPAR DEH”, katanya sambil berdiri dan
dengan tangan di angkat seperti orang berjanji dengan suara yang keras.
Eric menggeret Vito agar
segera duduk, “Apaan sih loe udah malu ah, duduk buruan, iya..iyaa gue percaya
ama loe deh. Eh liat itu bukannya Amelia aduh gimana gue mampus gue, gue pergi
dulu ahh”, Eric gugup sampai-sampai juicenya tumpah karena kesenggol.
“Ric loe bisa tenang nggak
sih, duduk dong!! dia tuh nggak tau
kalau loe tuh suka ama dia, tuh liat juicenya sampai tumpah ahh, loe liat
akhirnya gue deh yang kena”, Vito sambil membersihkan bajunya yang terkena
terkena juicenya Eric.
“Aduuh gimana loe tau kan gue
itu jika ada cewek yang gue suka gue suka deg-degan, dan gue suka salting,
makanya ayo kita pergi dari sini”, katanya nggak sabar ingin pergi.
“Sabar dikit dong, MAS tolong
bersihkan ini”, katanya ke petugas kebersihan sambil keluar dari tempat
duduknya dan menuju kasir untuk membayar makanan dan minuman.
“Udah Ric, ayo deketin dia
atau mau gue panggilin dia, Berapa Mbak”, sambil menyiku badan Eric.
“Apaan sih loe, nggak ah gue
nggak mau malu.. gue”
“Yeee siapa yang mau manggil
dia, ini..ni bayar makanannya kan loe yang nraktir gue. “Oh ya berapa mbak
nasgor 2, juic mangga 2”, mukanya Eric agak memerah karena malu.
“Semuanya jadi 15 ribu”, kata
kasir tersebut.
“Ni mbak maksih ya. Ayo Vit
kita pergi dari sini.. buruan liat nih jantung gue udah berdebar keras seperti
...”, katanya gugup.
“AMELIA... sini dong, ada yang
mau gue tanyain?”, kata Vito sambil melambaikan tangannya ke arah Amelia dan
Eric pun langsung lemas ia kelihatan sangat gugup sekali, cemas sekali.
“Hi, Vit ada apa”, kata Amelia
lembut sambil menghampirinya.
Saat Amelia mendekat Eric jadi
salting, ia pura-pura sedang membaca brosur yang ia ambil di dekat meja kasir, sampai
menutupi wajahnya.
“Misi, bacanya terbalik tuh
brosurnya..”, kata Amelia lembut ke Eric.
“Ahh, ma...ma...masa sih, oh
yaa he..he..hee, Hai, hai Lia”, katanya gagap banget sambil tersenyum malu.
“Hi juga, ada apa Vit manggil
gue, nanyain Ita ya”, kata Amelia kembali ke arah Vito.
“Ah enggak nih ada yang mau
kenalan ama loe, tuh orang yang sedang bergaya membaca brosur tadi”
“Oh, hai nama saya Amelia anak
kedokteran, nama loe siapa, maklum murid baru..”, katanya sambil memberikan
jabatan tangan ke Eric dengan senyuman yang sangat manis banget.
“Hai, na..na.nama sa..sa..ya
E..Ric.. anak manajemen”, kata Eric gagap plus gugup bin salting bukan main
sambil membalas jabatan tangan Amelia.
“Eric yah nama yang bagus,
senang berkenalan denganmu Eric, tapi bisakah loe melepaskan tangan loe dari
gue”, Amelia yang nggak enak tangannya terus di pegang.
“Ohh maaf”, katanya malu
sambil wajahnya terus memerah sedangkan Amelia hanya tersenyum.
“Lia.. sini deh. Dia itu suka
ama loe loh, loe harus bangga karena belum ada satupun cewek yang pernah di
taksir dia, malah banyak loh yang naksir dia”,kata Vito membisikan ke Amelia.
“Apaan sih loe, jangan
bercanda ah nggak lucu, masa baru kenal udah di comblangin” katanya sambil mukanya memerah.
“Eh, dikasih tau, loe liat aja
tingkahnya salting banget kan jika dia
deket loe, loe harus deketin dia terus, dia tuh orangnya liat deh dengan secara
seksama cakep banget kan. Dia juga pintar loh.. baik banget lagi.. kurang apa
lagi”, kata Vito meyakinkan Amelia.
“Vit, gue bukan orang yang
gampangan jatuh cinta ama orang, gue juga nggak matre, gue ngak mau jika dia
langsung jadi pacar gue, gue lebih suka jika gue dan Eric ta’arufan dulu”, kata Amelia pelan.
‘Wah beruntung banget Eric
punya pacar kaya dia, udah mah sholehah, pintar, tajir, cantik lagi, gue juga
mau’, katanya dalam hati.
“Vit haloo. Loe ngelamunin apa
sih, uh liat temen loe kasihan dari tadi
berbicara sendiri”, kata Amelia membuyarkan lamunan Vito dan memberitahu bahwa
Eric dari tadi bicara sendiri. Padahal Eric berbicara sendiri karena ia gugup
bukan main, yang ia ucap dari tadi adalah”aduh..aduh..jantung gue..”
“Eh sori, loe mau makan dulu
ya, ya udah sana makan ntar kita lanjutin lagi ya, ntar gue bawa Eric deh..”
“Apaan sih loe, ya udah gue
kesana dulu ya.. daa.....Eric... daa... Vito...”, katanya sambil meninggalkan
Eric dan Vito.
“Vito.... gila loh ya, untung
gue nggak pingsan, apaan sih manggil dia, ngajak kenalan lagi..uh...h gilaa...,
gue mau nyari udara segar dulu ayoo Vit..”, kata Eric sambil mengipas-ngipaskan
ke kepalanya.
Lalu mereka pun pergi keluar kantin, dan
mereka menuju taman, mereka duduk di bawah pohon.
“Gila..loe gue bisa turun
pamor gue di hadapan dia, loe kan tau gue itu jika ama cewek sikap gue itu
dingin, kalau anak-anak tau, tadi saat gue kenalan ama Amelia gue salting mau
taruh dimana sikap gue”, sambil tiduran di bawah pohon itu.
“Loe juga sih masa jika deket
ama cewe yang di suka langsung salting dan gugup kaya gitu, gue liat hanya loe
doang yang sikapnya kaya gitu dari hasil pengamatan gue karena gue belajar
sosiologi di samping kedokteran, 1 berbanding 1 milyar orang sikapnya sama
kayak loe”, vito ikut-ikutan tidur-tiduran, aduh entah ya perkataan Vito itu
benar atau enggak??
“Hmmh, balik yuk, BT gue di
sini terus, pengen balik ke rumah pengen tidur di kasur gue yang empuk dengan
AC yang menyala lalu medengarkan musik yang sendu.., udah ah gue pulang dulu
ya”, kata Eric bangun dari tidur-tiduran lalu berdiri dan lari menuju mobilnya
dan menyalakan mobilnya dan pergi.
“Hei, Ric tunggu dong katanya
gue boleh datang ke rumah loe, gila perginya cepet bener.. yah.. gue ditinggal
sendiri lagi, awas aja loe nggak bakalan gue bantu lagi, balik ah”, Katanya
kesal, lalu ia berdiri dan menuju mobilnya dengan malas-malesan. Dan ia pun
pergi dari kampus.
Pas mau keluar parkiran
kampus, “perasaan ada yang terlupa tapi apa ya, kok gue lupa”, saat ia lihat
orang yang berjalan masuk ke kampus ia teringat akan sesuatu hal, “Oh ya
ngapain gue pergi, bentar lagi kan ada kuliah, bo.doh, bodohnya gue”, katanya
bicara sendiri lalu ia pun balik ke pakiran dan menuju kelasnya.
‘Huh.. dasar Eric jadi gue
kebawa perasaan pengen tidur di rumah, plus AC dan dengerin musik sendu, aaahhh
ngantuk gue pengen buru-buru BALI....K!!’, gerutunya dalam hati.